Senin, 27 Februari 2012

partisipasi di FUN SCIENCE 2012

Alhamdulillah, pada acara lomba FUN SCIENCE 2012 yang diselenggarakan oleh YPII Nurul Jannah, tiga siswa SD Birrul mendapatkan 3 (tiga) piala. Tazkiya Gipsy Hawwa berhasil meraih medali perunggu (juara 3) pada kategori IPA. Akbar Fadlurrahman Yusuf berhasil meraih juara harapan 2 (dua) atau juara 5 pada kategori IPA. Kelas tiga berhasil memboyong juara 7 pada kategori IPA atas nama Uli Rafiul Albab.
Pada kesempatan ini pula utusan SD Birrul berhasil mendapatkan kenang-kenangan dari panitia, atas pertisipasinya, sebagai sekolah peserta terbanyak (41 siswa). Peserta luar kota terbanyak antara lain dari Demak, Pati, dan Sragen.
Semoga kebaggaan ini bisa berlanjut, dan bertambah lebih baik.
Terima kasih atas segenap pertisipasi dari orang tua, guru pembimbing dan semua pihak yang mendukung tim lomba SD Birrul Walidain. (dije)

Senin, 06 Februari 2012

dari pengukuhan guru besar

Hari ini, saya membaca berita di detiknews.com tentang pengukuhan Deny sebagai Guru Besar UGM. Bukan berita itu yang akan saya tulis, namun saya akan membandingkan teman si deny yang juga member group KAGAMA di facebook. Di group kagama, pemilik akun Bintang "bibien' Wisnuwardhani menuliskan kekesalannya, lantaran tidak bisa masuk Balai Senat. Ada juga yang nostalgia dengan masa lalu.


numbering

MEMBUAT NUMBERING
Numbering adalah penomoran otomatis pada MS WORD.
Cara membuatnya :
-          Klik Tab HOME
-          Pada menu paragraf, klik ikon numbering 
-          Pilih cara penomoran yang diinginkan

Kamis, 02 Februari 2012

choice

melangkah
itu
P  I  L  I  H  A  N

Senin, 30 Januari 2012

duel pemandu kuis

kuis versus di kompas.tv semalam, menampilkan SONY TULUNG dan NICO SIAHAAN.

acaranya sangat meriah.
Salah satu hal yang bisa kita ambil manfaatnya, banyak2lah membaca dan cari tau, karena kuis akan menanyakan apapun.

Selasa, 24 Januari 2012

duel motivator

Beruntung sekali pada hari minggu sore, saya berkesempatan melihat tayangan kuis VERSUS di TVB. Seperti yang kita tau TVB bekerjasama dengan kompas.tv dalam menayangkan acara-acaranya, entah apa nama kerjasama itu.
Tokoh yang tampil kala itu adalah Andrie Wongso vs Ponijan Liaw. Yeach, sesama motivator adu kecerdasan.

Ada satu hal yang menggelitik bagi saya, hadiah yang ditawarkan sebenarnya tak seberapa, namun bahwa siapa lebih ungggul dari siapa (dalam hal ini pertanyaan versi Helmi Yahya), itu lebih penting

Jumat, 20 Januari 2012

Harga Diri

Betapa banyak orang tumbuh dengan perasaan minder, sulit bergaul, dan pemarah! Biasanya kalau ditelusuri asal-muasalnya, perasaan itu muncul karena sejak kecil orang itu tidak bertumbuh dengan harga diri yang cukup. Bisa jadi dia sering dilarang melakukan ini-itu, sehingga masa eksplorasinya terhambat. Atau juga kerap dicela, dipersalahkan, dan jarang dipuji.
Sebagian anak lain tumbuh tanpa pengarahan orang tua, hanya dengan pembantu dan babysitter. Ketika remaja, anak ini menemui peer group-nya dengan tanki cinta yang nyaris kosong. Dia akan mudah dipengaruhi untuk melakukan hal-hal buruk.
Philip J. Henry, dkk dalam buku The Christian Therapist’s Notebook[1] menulis, percaya diri dibangun berdasarkan perasaan yang dipikirkannya tentang kemampuannya dibandingkan dengan prestasi yang dicapai sehari-hari. Dengan kata lain, orang itu bertanya, “Apakah saya sedang melakukan apa yang seharusnya saya lakukan?”
LIMA AREA HARGA DIRI
Ada lima area yang menjadi penyusun rasa percaya diri seseorang yang relatif normal, tidak peduli berapa pun umurnya. Anda, sebagai orang tua bisa menerapkan ke lima area ini sebagai alat analisis kepribadian remaja Anda.
1. Percaya diri rohani (spiritual self esteem) adalah kesesuaian antara apa yang remaja Anda percayai dengan apa yang menjadi perilakunya. Jika anak melihat sesehari perilaku orang tuanya sama dengan apa yang kita percayai dan ajarkan pada anak, maka harga diri rohani anak akan terbentuk. Banyak anak bermasalah dalam hal ini, karena melihat perilaku orang tua atau pembimbingnya berbeda dengan pengajaran yang disampaikannya. Anak sangat membutuhkan contoh atau teladan. Orang tua yang bisa menjadi role model yang baik pada anak akan mudah membangun percaya diri spiritual ini.
2. Self-esteem dalam bidang akademik. Ini adalah kesesuaian antara kemampuan atau prestasi di sekolah dengan yang diyakininya. Kalau anak tahu bahwa dia mampu dan prestasinya juga seimbang, maka self-esteem akademiknya terbentuk dengan baik. Contohnya: Musa, tokoh yang sejak kecil sudah dididik dalam disiplin akademis yang tinggi. Dia sudah belajar pelbagai bahasa yang berbeda pada waktu itu. Sering dilatih ilmu perang dan leadership serta semua ilmu pengetahuan Mesir yang adalah negara adidaya dunia saat itu. Agar anak-anak kita bertumbuh dengan per-caya diri akademik, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. Pertama, usahakan sejak kecil kita mengenali minat dan bakat anak. Lalu dorong anak mengembangkannya sejak kecil. Tidak sedikit orang tua tergoda memberi anaknya les banyak, dan berharap anaknya pandai dalam banyak bidang.
3. Social self-esteem. Harga diri sosial terbentuk berdasarkan cara keluarga dan teman memandang dirinya. Dua faktor yang membangun percaya diri sosial ini adalah sikap orang tua dan sikap teman sebaya. Kalau anak tumbuh dengan perasaan diterima dan dikasihi orang tua apa adanya, secara emosi dia dekat dengan orang tuanya maka social self-esteem terbentuk baik. Demikian juga saat dia mulai masuk sekolah, dia dilatih bergaul dengan teman-teman di sekolah atau dengan anak-anak tetangga, maka harga diri sosialnya akan terbentuk baik. Sejak kecil usahakan agar anak kita mendapat penerimaan, penghargaan, dan rasa dicintai. Itulah modalnya untuk bisa menerima dan mencintai teman-temannya di sekolah. Umumnya anak yang punya percaya diri sosial baik, cenderung menjadi bintang-bintang pergaulan.
4. Percaya diri emosi (emotional self-esteem). Yaitu, anak kita menyukai dirinya sendiri sebagaimana orang lain menyukai dirinya. Anak tahu kelemahan dan kekuatannya secara emosi, lantas dia menerima dirinya dengan semua kelebihan dan kekurangannya itu. Dia juga mudah mengakui emosi yang ada di dalam dirinya secara asertif. Dia tidak malu mengakui kekurangannya, dan bersedia dikritik oleh orang lain. Di samping itu emosi positifnya seperti kegembiraan dan rasa optimis mudah menular kepada orang lain. Kalau dia sedang marah, dia bisa mengelola kemarahan dengan baik. Jangan heran, mereka akan disukai oleh orang lain. Untuk mengembangkan percaya diri emosi pada anak, orang tua perlu menerima anak apa adanya. Memberi penghargaan kepada setiap emosi anak, baik positif maupun negatif. Kalau anak sedih, orang tua belajar berempati dan menjadi pendengar yang baik. Jika kemarahan anak sedang meledak, orang tua mengizinkan dia melepas kemarahannya secara proporsional, bukan langsung menegur dengan marah saat dia juga sedang kesal.
5. Physical self-esteem atau harga diri fisik. Ini dibentuk oleh dua hal, appearance atau penampilan diri dan ketrampilan. Penampilan diri misalnya, apakah anak ini enak dipandang, wangi, rapi, atau kebalikannya. Anak perlu diajari agar tampil menarik dan bersih. Jangan membedakan si anak dengan kakak atau adiknya. Anak juga harus terampil mengerjakan pekerjaan rumah yang sederhana. Misalnya merapikan tempat tidur, mencuci piring, memperbaiki alat tertentu, menyapu rumah, atau memasak.
Harga diri anak dibangun sejak usia balita. Sebab di lima atau enam tahun pertama otak anak bertumbuh dengan sangat cepat dan 80% sel saraf otak terbentuk. Pada usia ini juga 50% potensi kapasitas otak terbentuk. Pada usia balita terjadi pembentukan fondasi “pembelajaran”, anak sangat haus belajar, termasuk keterampilan dan penampilan. Mari kita siapkan dan bangun harga diri anak sebaik-baiknya sejak dini.
Keluargaku Pelangiku
Sumber
Buku “Sembilan Masalah Remaja” (Julianto Simanjuntak, Pelikan- Jakarta)

Perbaikan Rapor Mutu Pendidikan

INSPIRASI CARA MEMBENAHI KUALITAS PEMBELAJARAN 1.      Kualitas Pembelajaran A.     Metode Pembelajaran Inspirasi 1          :  Kepala...