Tampilkan postingan dengan label LINUX. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINUX. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2012

posisi menentukan kesempatan



senin hari ini, kembali saya mupeng, karena teman saya, yang guru dan pns di kota surakarta mendapat kesempatan untuk mengikuti TOT di Bandungan.


Sudah sekian tahun saya belajar Linux secara otodidak, melalui buku, blog dan internet. Alhasil, dibandingkan dengan teman-teman di instansi kami, bisa dikatakan saya lah yang paling sering menggembar-gemborkan LINUX, UBUNTU, dan SOFTWARE ANTI BAJAKAN. Walaupun selama ini saya masih juga menggunakan Windows bajakan, namun setidaknya saya tahu bahwa suatu saat harus hijrah menunju BERSIH.
Jika selama ini belajar melalui jalur nonformal, saya butuh sesuatu yang agak formal, setidaknya denga TOT atau pembekalan perLINUXan. KEsempatan yang berasal dari BPTIK Propinsi JAwa Tengah inilah yang tidak bisa saya dapatkan.


Kenapa butuh TOT atau Pelatihan dari lembaga negara?
Barangkali ini yang kami butuhkan. Selama ini, kami gerilya untuk mengajak menggunakan Linux, setidaknya mau mengerti bahwa linux tak sekejam yang mereka pikirkan selama ini, sulit dipahami, sulit dipelajari, begitulah makna kejam yang saya maksudkan. Pernah dalam suatu kesempatan kami saya menghadap kepala sekolah untuk menggunakan Linux, dan sang kepala tersebut mengatakan "Khan setelah dari SD anak akan kembali menggunakan Windows, dan lomba-lomba yang digelar pun menggunakan Microsoft". Itu yang menjadi alasan kepala sekolah, dan itupun saya iyakan.
Kesempatan kedua, dengan kepala sekolah yang berbeda. Sang kepala sekolah tidak menolak ataupun mengiyakan, hanya silahkan. 
Lantas, mengapa juga saya tidak segera mengajak beramai-ramai mengajak LINUX???
Pertama, saya butuh provokasi dari "Pemerintah". Hal ini menjadai penting manakala dari Dinas Pendidikan atau Dinas lain, gencar mengkampanyekan penggunaan Open Source, sehingga semua warga di sekolah ini akan lebih tergugah, minimal karena terpaksa.
Kedua, .... tunggu alasan saya selanjutnya












































Minggu, 29 April 2012

sekilas Ubuntu 12.04 LTS



Sesuai jadwal, hari Kamis 26 April 2012 Canonical mulai menyediakan link untuk segera didownload sistem operasi yang sangat dinantikan Ubuntu 12.04 LTS (LONG TERM SUPPORT) dengan kode Precise Pangolin Final.
 
Ubuntu 12.04 LTS datang membawa kernel Linux 3.2, berbagai update paket software utama, semisal kebutuhan dasar perkantoran, LibreOffice 3.5.2. Saat ini saya mesih menggunakan Libreoffice 3.3 di blankon saya. Antar muka Unity telah diperbarui ke versi 5.10 yang berjalan pada lingkungan desktop Gnome 3.4.1. Menyertakan login manager terbaru LightDM 1.2.1 yang telah dilengkap dengan fitur perubahan background otomatis pada setiap pengguna. (tulisan bojalinuxer.com, dengan perubahan)

Saya berhasil mengunduh pada hari Jumat 27 April 2012, pagi hari (GMT +7). namun baru sempat mencoba menggunakan UFD Kingston 2GB dengan bantuan YUMI terbaru. Dalam 1 UFD saya memasukkan 2 (dua) OS yaitu Ubuntu 12.04 dan linuxmint edisi debian.

Berhubung terakhir saya menggunakan 10.04 dan blankon 7 (Pattimura), butuh beberapa penyesuaian untuk menilai.

Jumat, 23 September 2011

andorid itu bukan linux

pada pemilihan mas dan mbak RSBI-SMP N 1 Sragen kemaren (22 Sep 2011) seorang juri bertanya kepada salah satu kontestan, pertanyaannya "Apa sistem operasi yang digunakan pada PC Tablet?", dijawab "LINUX". Sang juri tidak membenarkan atau menyalahkan, namun menjawab "ANDROID".
hehehe, nampaknya sang juri tak begitu paham akan gadget yang ditentengnya. sang Juri yang tak lain adalah seorang kepala sekolah setempat menenteng samsung galaxy tab 7" rupanya tak mau tau (semoga cuma belum tahu) bahwa android yang open source juga linux.
eh, jangan-jangan saya juga salah kalo mengkategorikan android sebagai linux. 

Senin, 04 Juli 2011

panik

pagi tadi saya mencoba menghapus partisi hardisk di windows 7 dengan menggunakan epm, tool pemartisi gratisan. perlu diketahui, saya menggunakan dual OS, yaitu windows 7 dan Ubuntu.
setelah berhasil menghapus partisi, program minta di restart, dan dari sinilah hal-hal yang tidak saya inginkan terjadi.
pas booting.... tidak bisa, karena harus melewati GRUB nya ubuntu, sehingga saya tidak bisa masuk ke UBUNTU  ataupun Windows 7.
beruntung saja saya masih punya kabel USB to IDE, untuk menghubungkan CDRW saya ke dalam netbook.
saya kemudian booting menggunakan UBUNTU 10.04 Live CD, kemudian mencoba konek ke google menggunakan HUAWEI e160, akhirnya ketemu caranya.
sebelum melakukan langkah selanjutnya, saya mencari *.iso ubuntu 11.04 untuk saya buat ufd live usb.
setelah selesai, saya kemudian berpikir, kalo langsung saya "repair", jangan2 MBR windows7 tidak kedetek alias tidak kebaca di GRUB. saya masih cari2 artikel yang menjamin bahwa MBR windows7 tidak hilang, akhirnya ketemu di situs ini.

....kelamaan ceritanya...
singkatnya begini :

1. Siapkan CD Ubuntu 11.04, pake live usb juga boleh deh,,
2. setting pengaturan Booting nya di BIOS.. kalo pake CD ya pilih booting awal dengan CD, klo dari flash disk ya pilih booting dari ufd.
3. Selanjutnya tunggu sampai pada layar Ada pilihan Boot Ubuntu muncul, Pilih Try Ubuntu..
4. Setelah masuk pada tampilan Desktop Ubuntu, buka Terminal , atau tekan kombinasi tombol Ctrl+Alt+F2
5. Cek partisi Linux Anda dengan menggetikkan perintah : sudo fdisk -l
6. Setelah anda menggetahui partisi Linuxnya, seperti pada laptop saya terdapat 2 partisi sda5 Mount ( / ) dan sda6 Mount (/home), saya pilih Bootloader sda5 karena sda5 merupakan system dari ubuntu, sedangkan sda6 untuk menyimpan file – file dokument. Kemudian lakukan mounting sebagai berikut :
sudo mount -t ext4 /dev/sda5 /mnt
sudo mount -t proc proc /mnt/proc
sudo mount -t sysfs sys /mnt/sys
sudo mount -o bind /dev/ /mnt/dev
sudo chroot /mnt/ /bin/bash
7. sekarang kita akan mengembalikan GRUB ke MBR, perintahnya :
grub-install /dev/sda
ntar muncul pesan seperti ini..
Installation finished. No error reported.
This is the contents of the device map /boot/grub/device.map.
Check if this is correct or not. If any of the lines is incorrect,
fix it and re-run the script `grub-install
(hd0) /dev/sda
(hd1) /dev/sdb
8.sekarang kita akan mengembalikan kedalam partisi Linuxnya, Dalam contoh ini Partisi linux saya berada pada partisi sda5, perintahnya :
grub-install /dev/sda5
Hasilnya muncul pesan seperti ini:
grub-setup: warn: Attempting to install GRUB to a partition instead of the MBR. This is a BAD idea.
grub-setup: warn: Embedding is not possible. GRUB can only be installed in this setup by using blocklists. However, blocklists are UNRELIABLE and its use is discouraged.
Installation finished. No error reported.
This is the contents of the device map /boot/grub/device.map.
Check if this is correct or not. If any of the lines is incorrect,
fix it and re-run the script `grub-install
(hd0) /dev/sda
(hd1) /dev/sdb
9. Ketik update-grub. Hasilnya seperti di bawah ini:
Generating grub.cfg …
Found linux image: /boot/vmlinuz-2.6.31-14-generic
Found initrd image: /boot/initrd.img-2.6.31-14-generic
Found memtest86+ image: /boot/memtest86+.bin
Found Microsoft Windows 7 Loader on /dev/sda1
done
PS: Tip ini penting untuk mencegah kasus Windows yang tidak bisa booting dan selalu muncul pesan error: no such device, meski tampil (dan bisa dipilih) pada menu bootloader.
10. Sekarang ketik reboot untuk merestart komputer. Hasilnya, bootloader akan kembali seperti semula.
11. Jangan lupa mengeluarkan LiveCD Ubuntu atau Flashdisk (berisi OS Ubuntu) yang dipakai untuk booting tadi. Jika tidak, komputer akan booting lagi dari CD/Flashdisk.
nah setelah di reboot kadang windows belum muncul. tenang saja, masuk kembali ke linux kalian, (berdasar yang saya alami) lalu buka terminal di Linux kemudian ketik perintah di terminal
update-grub
lalu akan muncul update grub kalian. tutup terminal, reboot kembali komputer Anda dan di grub pilihan akan muncul Windows.
Selamat Mencoba  :D

Kamis, 12 Mei 2011

Install Libre Office di Linux

 Pemula Linux  12/01/2011 (disalin dari http://andy.web.id/install-libre-office-di-linux.php)

Kira-kira semester pertama tahun lalu, saat muncul Ubuntu 10.04, pengguna OpenOfficemungkin tidak terkejut ketika mengetahui bahwa pembuka aplikasi itu tidak lagi berwarna biru khas Sun Microsystem melainkan jingga warna khas Oracle. Itu karena aplikasi perkantoran itu sudah diakuisisi oleh Oracle.
Waktu itu ada beberapa distro yang tertinggal mengikuti versi terbaru, misalnya Linux Mint 9 Isadora yang masih menggunakan OpenOffice dari Sun.
Setelah beberapa waktu dipegang Oracle, ada kelebihan dan ada kekurangan, sayangnya justru menimbulkan ketidakpuasan di kalangan open source.  Oleh karena itu, pengembang OpenOffice memutuskan berpisah dengan Oracle, dan membentuk kelompok sendiri dengan nama The Document Foundation (TDF) –silahkan simak berita di sini, atau menuju situs resminya di sana!–.
Sejak tahun lalu seiring dengan rilis Ubuntu 10.10, saya sudah mendengar  kabar rilis LibreOffice, namun setelah mendengar kicauan Andri Nawawi kemarin, barulah saya mencoba LibreOffice.
Aplikasi Perkantoran ini multi platform. Bisa dipasang di Windows, Linux, dan MacOS. Di Linux, memasang LibreOffice untuk menggantikan OpenOffice di LinuxMint 10 Julia yang sekarang saya gunakan ternyata sangat mudah. Cukup menggunakan empat langkah di terminal: (cara ini similar di Ubuntu dan turunannya, juga keluarga Debian lainnya)
  1. $ sudo apt-get purge openoffice*.*
  2. $ sudo add-apt-repository ppa:libreoffice/ppa
  3. $ sudo apt-get update
  4. $ sudo apt-get install libreoffice
Untuk pengguna desktop GNOME, bisa juga menggunakan $ sudo apt-get install libreoffice-gnome sedangkan untuk pengguna desktop KDE $ sudo apt-get install libreoffice-kde.
Bagi pengguna Linux yang kebetulan menggunakan distro Linux selain keluarga Debian, cukup menggunakan unduhan dari di situs resmi The Document Foundation yang tersedia dalam format RPM terkompresi.
Install selesai….  Dan saya pun mencoba menggunakan LibreOffice untuk urusan ketik-mengetik, namun sampai saat ini ternyata saya belum menemukan hal yang berbeda. Semua berasa sama sehingga urusan kerjaan pun sama sekali tak terganggu.
Yeach… setidaknya penggantian aplikasi yang saya lakukan ini sudah ikut mendukung pengembangan opensource yang dikembangkan komunitas tanpa tergantung pihak manapun.

Install Libre Office di Linux

 Pemula Linux  12/01/2011 (disalin dari http://andy.web.id/install-libre-office-di-linux.php)

Kira-kira semester pertama tahun lalu, saat muncul Ubuntu 10.04, pengguna OpenOfficemungkin tidak terkejut ketika mengetahui bahwa pembuka aplikasi itu tidak lagi berwarna biru khas Sun Microsystem melainkan jingga warna khas Oracle. Itu karena aplikasi perkantoran itu sudah diakuisisi oleh Oracle.
Waktu itu ada beberapa distro yang tertinggal mengikuti versi terbaru, misalnya Linux Mint 9 Isadora yang masih menggunakan OpenOffice dari Sun.
Setelah beberapa waktu dipegang Oracle, ada kelebihan dan ada kekurangan, sayangnya justru menimbulkan ketidakpuasan di kalangan open source.  Oleh karena itu, pengembang OpenOffice memutuskan berpisah dengan Oracle, dan membentuk kelompok sendiri dengan nama The Document Foundation (TDF) –silahkan simak berita di sini, atau menuju situs resminya di sana!–.
Sejak tahun lalu seiring dengan rilis Ubuntu 10.10, saya sudah mendengar  kabar rilis LibreOffice, namun setelah mendengar kicauan Andri Nawawi kemarin, barulah saya mencoba LibreOffice.
Aplikasi Perkantoran ini multi platform. Bisa dipasang di Windows, Linux, dan MacOS. Di Linux, memasang LibreOffice untuk menggantikan OpenOffice di LinuxMint 10 Julia yang sekarang saya gunakan ternyata sangat mudah. Cukup menggunakan empat langkah di terminal: (cara ini similar di Ubuntu dan turunannya, juga keluarga Debian lainnya)
  1. $ sudo apt-get purge openoffice*.*
  2. $ sudo add-apt-repository ppa:libreoffice/ppa
  3. $ sudo apt-get update
  4. $ sudo apt-get install libreoffice
Untuk pengguna desktop GNOME, bisa juga menggunakan $ sudo apt-get install libreoffice-gnome sedangkan untuk pengguna desktop KDE $ sudo apt-get install libreoffice-kde.
Bagi pengguna Linux yang kebetulan menggunakan distro Linux selain keluarga Debian, cukup menggunakan unduhan dari di situs resmi The Document Foundation yang tersedia dalam format RPM terkompresi.
Install selesai….  Dan saya pun mencoba menggunakan LibreOffice untuk urusan ketik-mengetik, namun sampai saat ini ternyata saya belum menemukan hal yang berbeda. Semua berasa sama sehingga urusan kerjaan pun sama sekali tak terganggu.
Yeach… setidaknya penggantian aplikasi yang saya lakukan ini sudah ikut mendukung pengembangan opensource yang dikembangkan komunitas tanpa tergantung pihak manapun.

Jumat, 01 April 2011

Mengapa dan Bagaimana Open Source di Dunia Pendidikan

Penulis: Ahmad Saiful Muhajir - detikinet
Jakarta - Membawa open source ke dunia pendidikan memang bukan perkara mudah. Apalagi jika berurusan dengan pendidikan atas setingkat universitas. 
Salah satu alasan tak mudahnya membawa open source adalah latar belakang mahasiswa yang telah terbiasa dan nyaman dengan produk proprietary. Dan karena itu perubahan ke open source membutuhkan usaha yang lebih keras.
Langkah pertama sebelum mengajak beralih menggunakan open source adalah membuka pemikiran. Hal utama untuk membuka pikiran yang paling tepat adalah memberikan jawaban dari pertanyaan, mengapa. 
Mengapa para siswa/mahasiswa harus beralih ke open source?
Dunia kerja
Membantah kalimat bahwa open source lebih banyak digunakan di dunia pekerjaan adalah hampir mustahil. Di banyak pencari pekerjaan, sebagian besar mensyaratkan seorang pelamar memiliki kemampuan di bidang open source –baik disadari maupun tidak.
Jika anda berkunjung ke situs-situs pencari kerja, maka anda akan menemukan banyak sekali pekerjaan semacam PHP programmer, system administrator, J2EE programmer, database administrator, dan lain sebagainya. Sebagian besar adalah produk open source.
Gartner, sebuah perusahaan periset di bidang informasi dan teknologi, dalam riset terakhirnya yang dirilis Februari lalu mengungkapkan bahwa lebih dari 50% organisasi dan perusahaan besar telah menggunakan produk open source untuk lingkungan pekerjaan mereka.
Dengan memiliki kemampuan di bidang open source tentu saja akan membuka kesempatan yang lebih besar bagi seorang lulusan untuk mendapatkan pekerjaan.
Belajar bersama
Dunia open source adalah dunia komunitas. Dengan kekuatan komunitas inilah open source dapat berkembang sedemikian pesat dan besar. 
Linux kernel, MySQL, Java, WordPress, Blender adalah contoh nyata kekuatan komunitas di mana masing-masing personal belajar bersama dengan yang lain untuk membuat sebuah produk berkualitas dan lebih baik.
Dengan belajar bersama seseorang akan dikenal dan menjadi semakin mahir dalam bidang tertentu. Dan tidak hanya itu, semakin seseorang mahir dan terbukti kemampuannya dalam sebuah komunitas dia akan semakin dikenal oleh banyak orang dan akan mendapat kesempatan lebih banyak. Ada banyak nama yang dapat disebut dari suksesnya proyek open source yang telah mereka buat.
Kebebasan/Freedom
Salah satu misi paling mulia yang dimiliki open source adalah free. Free dalam dunia open source tidak selalu berarti gratis, melainkan lebih tepat jika disebut freedom/bebas. Itulah mengapa terdapat istilah FOSS (Free/Open Source Software)/FLOSS (Free/Libre/Open Source Software) selain istilah Open Source Software.
Satu alasan utama Richard Stallman membuat Free software movement dan GNU adalah keinginannya untuk bisa bebas menggunakan sistem yang dimilikinya. 
Dengan open source seseorang bisa mengintip kode, mengubah dan menjadikannya lebih baik dari sebelumnya. Dengan membaca kode yang ada seseorang tahu dengan pasti apa yang dilakukan sistem ketika ia dijalankan.
Open Source juga dapat dibisniskan
Membiarkan kode terbuka tidak berarti produk tersebut tidak dapat dijual. Siapapun yang membuat sebuah software open source dapat menjualnya, baik bentuk produk maupun support.
Red Hat, sebuah perusahaan ternama di dunia open source akhir Februari lalu berhasil membukukan keuntungan sebesar 244,8 juta dolar Amerika untuk masa kuartal keempat saja. 
Sebuah nilai keuntungan yang luar biasa untuk perusahaan open source. Hal ini mematahkan teori yang mengatakan bahwa open source dan bisnis tidak bisa menjadi kawan.
Bagaimana memulainya?
Mulailah dengan hal kecil seperti berpindah menggunakan aplikasi office ke OpenOffice.org atau LibreOffice. Gunakan GIMP untuk editing foto dan cobalah Blender untuk membuat animasi. 
Blender adalah aplikasi editing animasi yang luar biasa. Beberapa contoh film animasi yang dibuat dengan Blender dapat dilihat di http://www.blender.org/features-gallery/movies/.
Bagi programmer atau peminat pemrograman cobalah untuk membuat proyek program yang dibutuhkan oleh orang lain dan membuat mereka merasa terbantu. Atau bisa juga proyek yang berguna untuk organisasi-organisasi non-profit sebagai tahap awal. 
Dari hal kecil inilah setelah itu dilanjutkan dengan yang lebih besar secara bertahap.
Bergabunglah dengan komunitas dan jadilah aktif. Dengan bergabung dengan komunitas, anda akan mendapatkan dukungan dan tidak merasa berjalan sendirian. 
Untuk membuka jalan lebih lebar bergabunglah juga dengan komunitas open source internasional sehingga akan mendapatkan lebih banyak keuntungan. Keaktifan seseorang dalam sebuah komunitas akan menjadikan dirinya dikenal dan lebih merasa tertantang untuk menjadi lebih baik.
Cari lebih banyak tantangan. Orang bijak mengatakan hidup tanpa tantangan itu hampa. Nah, agar perjalanan di dunia open source tidak hampa carilah lebih banyak tantangan dan usahakan untuk menyelesaikan tantangan tersebut.
Jangan menyerah. Di tengah perjalanan mungkin akan ada masalah yang terjadi. Error di sana-sini dan lain sebagainya. Inilah gunanya memiliki teman di komunitas. Berkonsultasilah dengan orang terpercaya dan jadikan pengalaman yang didapat sebagai database yang menjadikan anda lebih pintar.
Ketika tengah disibukkan dengan menyelesaikan berbagai tantangan inilah, tanpa terasa anda telah menjadi seorang yang mahir dalam bidang open source dan membuat kawan-kawan anda merasa iri. 
Semoga sukses dan teruslah semangat!


Perbaikan Rapor Mutu Pendidikan

INSPIRASI CARA MEMBENAHI KUALITAS PEMBELAJARAN 1.      Kualitas Pembelajaran A.     Metode Pembelajaran Inspirasi 1          :  Kepala...