Tampilkan postingan dengan label pgp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pgp. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 April 2023

Koneksi Antar Materi 3.1 Pengambilan Keputusan pada Pendidikan Guru Penggerak



KONEKSI ANTARMATERI

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Oleh: Anton Budi Nugroho_CGP ANGKATAN 7_KAB.SRAGEN

Sebelum mengajar di SD ini, saya pernah mengajar di pulau Sumatera selama 4 bulan, pada tahun 2007. Saya mencoba mencari peruntungan di tanah rantau. Karena latar belakang saat itu bukan pendidikan, akhirnya saya kembali ke Jawa untuk mengambil akta 4.

di tahun 2008 saya mulai mengajar di sekolah ini. Dari pengalaman tersebut saya banyak belajar bagaimana mengambil keputusan yang berhubungan dengan dilema etika dan bujukan moral.

 

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).

Bob Talbert

 

Kaitan antara proses pembelajaran dengan kutipan diatas, menurut saya adalah bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dengan permasalahan dilema etika, dimana sebagai seorang guru kita seringkali mengalami dilema dalam pembelajaran, antara mengedepankan materi atau nilai dari sebuah materi melalui pendidikan karakter.

 

Bagi saya sebuah keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, dan senantiasa berpihak pada murid. Hal ini dengan harapan agar keputusan kita mempunyai dampak positif bagi lingkungan sekolah yaitu terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, tanpa adanya perselisihan

 

Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

Seorang pemimpin pembelajaran mampu berkontribusi pada proses pembelajaran murid dengan cara menuntun siswa untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya. Dari pengalaman pembelajaran ini siswa akan mendapatkan kebahagiaan melalui merdeka belajar. Pengambilan keputusan dalam pembelajaran harus mengutamakan kebutuhan belajar murid, yang dapat dilaksanakan melalui pembelajaran berdiferensiasi.

 

Dari kutipan diatas, dapat ditarik benang merah hubungan antara proses pembelajaran dan pengambilan keputusan. Modul ini memberikan pengetahuan bagaimana posisi guru dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan dilema etika atau bujukan moral, tetap senantiasa memperhatikan nilai-nilai kebijakan universal, tanggungjawab, dan berpihak pada murid. Kutipan tersebut merupakan dilema etika yang dapat diputuskan melalui 9 langkah pengambilan keputusan

 

 

 

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Saat menghadapi sebuah masalah yang menuntuk guru untuk mengambil keputusan, maka guru harus ingat dengan pratap triloka dalam pendidikan sebagai sistem among yang diusung oleh KHD antara lain :

  • Ing ngarsa sung tuladha , maknanya adalah, seorang guru menjadi teladan bagi muridnya, memimpin, agar pantas ditiru.
  • Ing madya mangun karsa, maknanya, seorang guru melalui kemampuannya memberdayakan, menyemangati, mampu menumbuhkan kualitas diri sendiri dan murid.
  • Tut wuri handayani, yaitu peran guru sebagai motor penggerak yang memotivasi serta mendorong muridnya berkembang ke arah positif..

Kaitannya dengan pengambilan keputusan, seorang pemimpin (guru) harus mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat, arif, bijaksana, dan berpihak kepada siswanya. Seorang pemimpin (guru) harus mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya (siswa), seorang pemimpin (guru) harus mampu membangun semangat orang-orang yang dipimpinnya (siswa), dan seorang pemimpin (guru) harus mampu memberikan motivasi kepada orang-orang yang dipimpinnya (siswa) untuk dapat mengembangkan minat, bakat, dan potensi yang dimiliki.

Dalam menjalankan peran sebagai guru, ada kalanya guru dihadapkan dalam situasi yang mengandung dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan sebuah situasi dilematis yang terjadi.  Ketika seseorang harus memilih antar dua pilihan, dimana kedua pilihan benar secara moral, tetapi bertentangan. Bujukan moral adalah sebuah situasi ketika pendidik harus memilih keputusan benar atau salah.

Menurut saya pengaruh pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka terhadap sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran adalah guru menyadari bahwa dalam lingkungan sekolah akan ditemukan berbagai dilema etika dan bujukan moral. Maka dari itu disinilah guru harus memiliki kompetensi dan peran sesuai dengan filosofi Pratap Triloka dari KHD dengan cara menjadi sosok teladan yang positif, motivator, dan sekaligus moral support bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila dan merdeka belajar sehingga  guru seyogyanya selalu mengacu pada 9 langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan dalam situasi yang menantang dan bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.

 

 

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, tentu berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Dalam pengambilan keputusan, kita mengenal ada tiga prinsip yang dapat kita ambil yakni Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan tentunya berkaitan dengan nilai- nilai yang tertanam dalam diri kita.

Salah satu nilai kebajikan universal yang menjadi acuan dalam nilai-nilai kebajikan tanggung jawab. Nilai ini sangat penting dalam hal ini, mengingat sebuah keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan. Melalui sikap tanggung jawab dari dalam diri, sebuah keputusan yang kita ambil akan  mencerminkan bagaimana prinsip diri kita berdasarkan ketiga prinsip pengambilan keputusan, sehingga akan mendorong terwujudnya wellbeing dalam ekosistem pendidikan.

 

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Pada materi pengambilan keputusan yang telah CGP pelajari, CGP memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang telah dilakukan pada modul 2.3. Jika pada proses coaching kita (sealku coach) berupaya untuk membantu agar coachee dapat membuat keputusannya secara mandiri maka dalam modul ini kita kembali melakukan refleksi apakah keputusan yang dibuat tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Dalam pembelajaran pengambilan keputusan ini penulis diberikan panduan berupa paradigma, prinsip, dan 9 langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan yang tentu akan membuat suatu keputusan semakin tajam dan matang.

 

 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya dilema etika. Guru yang memiliki kesadaran diri yang baik pasti menunjukkan integritas dan kejujuran dalam pengambilan keputusan. Kemampuan guru dalam mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri sangat diperlukan dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan serta aspirasi. Tidak kalah penting keberagaman latar budaya juga menjadi dasar guru dalam berempati dan peduli.

Pada akhirnya hal tersbut diatas berdampak pada keputusan yang diambil dan perlu dipertanggunjawabkan.

 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Sebagai seorang pendidik tentu akan menghadapi situasi dilema etika atau bujukan moral di lingkungan sekolah. Pembahasan studi kasus pada modul ini memberikan contoh-contoh yang sering terjadi.  Hal ini akan memberikan arahan dan pedoman agar dapat bertindak secara bijak melalui prinsip, paradigma, dan langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan.

 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan memiliki arti penting bagi maju atau mundurnya suatu organisasi/sekolah. Pengambilan keputusan yang tepat akan menghasilkan suatu perubahan terhadap organisasi/sekolah ke arah yang lebih baik, terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. namun sebaliknya pengambilan keputusan yang salah akan berdampak buruk pada roda organisasi/sekolah itu sendiri.

 

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Dalam menjalankan pengambilan keputusanm, tantangan yang saya hadapi diantaranya adalah adanya perbedaan pendapat antar individu maupun antar kelompok. Untuk ini saya harus dapat memilah antara dilema etika atau bujukan moral.  Selanjutnya kaitan antara masalah yang ada tidak lepas dari paradigma di lingkungan sekolah, yaitu :

1. Individu vs kelompok

2. Keadilan vs belas kasihan

3. Kebenaran vs kesetiaan

4. Jangka pendek vs jangka panjang

Dari empat hal tersebut, maka setiap permasalahan harus kita tentukan apakah memenuhi aspek diata atau belum. Dengan kejelian menentukan masuk kategori yang mana, maka kita dapat membuat keputusan yang sesuai dan berpihak pada peserta didik.

 

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Terdapat pengaruh antara pengambilan keputusan terhadap pengajaran yang memerdekakan murid seperti keputusan strategi pembelajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik, kesiapan murid, minat murid, dan profil belajar murid.

Setelah kita mengetahui ketiga unsur tersebut (minat-kesiapan-profil belajar), selanjutnya dapat kita tentukan stategi pembelajaran yang berdiferensiasi konten, proses dan produk

 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin harusnya berlaku dan bertindak bijaksana, memperhatikan nilai kebajikan universal, tanggung jawab, serta yang berpihak kepada peserta didik. Dengan memahami hal ini, akan terwujud kesejahtearaan murid.

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Dari pengamalan memahami modul 3.1 ini, dapat disimpulkan bahwa dalam pengambilan keputusan kita harus berdasar pada 3 unsur yaitu nilai kebajikan universal, bertanggungjawab terhadap segala konsekuensi, dan bepihak pada murid.

Pada modul 2.2 kita sudah belajar tentang Pembelajaran Sosial Emosional, dimana dalam mengambil keputusan, kita  harus dalam keadaan tenang. Pada modul 2.3 kita juga sudah dibekali kemampuan untuk melakukan coaching baik sebagi coach maupun sebagai coachee. Dari pengalaman ini, CGP diharapkan dapat dengan sendirinya menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Dari pembelajaran berdiferensiasi, CGP juga belajar untuk menentukan keputusan apa yang diambil agar peserta didik akan memperoleh pembelajaran sesuai dengan kebutuhannya

 

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Saya telah belajar mengenai 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan keputusan sebagai langkah awal untuk menentukan apakah masalah tersebut merupakan dilema etika atau bujukan moral. Ternyata, disebut dilema etika apabila (benar vs benar) dan bujukan moral apabila (salah vs benar). Dan apabila suatu masalah ketika diuji dengan 9 langkah pengambilan ada uji yang dilanggar, maka hal tersebut dapat identifikasi sebagai bujukan moral.”

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, namun belum melaksanakan 9 uji langkah pengambilan keputusan. Perbedaan yang mencolok adalah, saat itu saya lebih mengedapankan aturan dan kepantasan. Saat itu saya hanya melakukan uji, apa yang akan terjadi apabila hal itu (kasus tersebut) terjadi pada keluarga saya.

 

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Setelah mempelajari modul ini, saya senantiasa berhati-hati dalam mengambil keputusan. Saya tidak serta merta berpandangan bahwa kita dapat mengontrol siswa secara penuh. Dari pelajaran ini saya paham bahwa keputusan yang diambil harus berdasarkan pada nilai kebajikan, tanggungjawab, dan berpihak pada murid. Untuk mendapatkan hal tersebut (berdasar nilai kebajikan, bertanggung jawab dan berpihak pada murid) prose pengambilan keputusan dilakukan sesuaii kaidah yang ada melalui langkah langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

 

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Materi pengambilan keputusan ini sangat penting, apalagi bagi seorang pemimpin pembelajaran, dimana sebuah keputusan diambil harus berdasarkan beberapa pertimbangan. Dari pertimbangan tersbut akan dihasilkan sebuah keputusan yang ada dapat dipertanggungjawabkan. Keputusan yang diambil adalah langkah yang paling bijaksana dan yang terbaik.


Selasa, 28 Februari 2023

Jurna Refleksi dwimingguan 5 (modul 2.1)



Tak terasa sudah masuk minggu ke 9, saya akan mencoba merefleksikan pembelajaran dan aktivitasnya yang telah saya lakukan dan lewati setiap langkahnya di Learning Management System (LMS).

Setelah selesai modul 1 di akhir tahun 2022, angkatan 7 rehat selama kurang lebih sebulan, dan baru mulai lagi bulan Februari 2023. Dalam minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yang harus saya kerjakan. Pertama diawali dengan Tes Awal Paket Modul 2. 1 kemudian dilanjutkan dengan aktivitas pembelajaran Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi 1, hingga Koneksi antar materi.

 

Facts( Peristiwa)

Aktivitas pertama yaitu dengan melakukan Tes Awal Modul 2. Setiap memulai modul saya melaksanakan tes awal paket modul 2 dilanjutkan dengan pembelajaran di LMS dimulai dari diri, eksplorasi konsep, ruang kolaborasi 1 dan 2, demonstrasi kontekstual, elaborasi pemahaman, koneksi antar materi dan aksi nyata.

Pada eksplorasi konsep, saya banyak mendapatkan gagasan dan ilmu dari komntar CGP lain di LMS. Saya juga berkesempatan untuk mengomentari balik hasil temuan dari yang CGP lain baca. Dalam ruang ini pula masing-masing CGP menyajikan temuan dari dua video yang disajikan. Tugas pada eksplorasi konsep berupa diagram Frayer.

Berikutnya, pada saat melaksanakan diskusi di ruang kolaborasi, saya mendapatkan kesempatan untuk membahas pembelajaran di TK dan SD. Kebetulan saya satu kelompok dengan pak Triyanto (pengajar kelas 3 SD)  dan ibu Riza Sasika yang mengajar di TK. Saat itu kami membahas kasus pak Dermawan. Diskusi berjalan dengan baik, karena masing-masing menyampaikan argumen masing-masing. Di hari kedua, tibalah saat presentasi. Banyak sekali manfaat dari diskusi ini, karena saya banyak tahu permasalahan mulai dari SLB, SMP, SMA dan SMK. Hal menambah wawasan, ilmu dan pengalaman. Saya jadi mengetahui bagaimana mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi ke dalam sebuah RPP sesuai mata pelajaran yang kita ampu, sehingga dapat mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik.

Tugas berikutnya adalah demonstrasi kontekstual, saya diminta untuk membuat sebuah RPP berdiferensiasi. Tugas ini merupakan tantangan bagi saya  karena harus mulai mempertimbangkan diferensiasi kebutuhan peserta didik ditinjau dari profil belajarnya.

Berikutnya sesi elaborasi pemahaman dengan DRA. ANI ADIBATIN yang sangat cakap dalam menyampaikan materi, tak terasa dua jam terasa sangat cepat karena penyampaian materi dengan diskusi berjalan sangat lancar, interaksi instruktur dan CGP sangat intens.

Sebelum lanjut berikutnya, dilakukan penulisan Koneksi Antar materi yang saya tuangkan di blog pribadi, dan dilanjutkan dengan aksi nyata.


Feelings (Perasaan)

Modul 2 ini sangat menarik bagi saya, karena ternyata banyak pengetahuan yang belum miliki dan harus saya lakukan. Apalagi di kelas yang muridnya beragam, pembelajaran berdiferensiasi membuat saya merasa tertantang, penasaran karena harus memperhatikan semua kebutuhan murid yang tentu satu sama lain berbeda kebutuhan. Selama ini saya hanya berfokus pada ketercapaian materi, sehingga harus cepat untuk mengejar ketuntasan belajar. Saya merasa berdosa terhadap mereka, dimana belum imbang dengan kebutuhannya dan ada sedikit pengabaian.

Saya sangat senang dan lebih memahami menjadi tahu dalam menyusun RPP dengan pembelajaran berdiferensiasi. Baru menyusun RPP saja saya sudah sangat bahagia, apalagi bisa menerapkan dengan baik.

 

Findings (Pembelajaran)

Kali ini saya mendapatkan pelajaran tentang bagaimana kita menyiapkan pembelajaran dengan model berdiferensiasi. Dan tentu saja ini sangat bermanfaat agar semua kebutuhan murid minimal dapat kita akomodir. Hal ini jika dikaitkan dengan nilai-nilai Filososfi pendidikan menurut KHD,  bahwa belajar adalah menuntun murid untuk mencapai tujuan belajar dan dalam mencapai tujuan belajar tersebut, diharapkan guru dapat menuntun murid dengan berbagai macam cara atau metode yang sesuai dengan kebutuhan murid.

Sejatinya pembelajaran berdiferensiasi itu dibuat agar guru dapat melaksanakan pembelajaran yang mampu untuk mengakomodir semua kebutuhan belajar murid. Guru harus mampu untuk memiliki kepekaan dalam merespons semua kebutuhan murid. Tentu dalam memenuhi kebutuhan murid ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti : 1. kesiapan belajar (Readiness); 2. minat belajar; serta 3. profil belajar murid. Dalam pembelajaran berdiferensiasi kita juga harus memperhatikan beberapa strategi antara lain berupa diferensiasi proses, diferensiasi konten, dan diferensiasi produkDalam proses penilaian , guru menggunakan penilaian berjenjang, dengan harapannya semua murid memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga murid akan mendapatkan lingkungan yang aman dan nyaman dalam proses pembelajaran.

Future ( Penerapan)

Materi ini merupakan materi yang sangat baik dan bisa  segera diterapkan secara bertahap. Setelah mempelajari modul ini saya akan memetakan kebutuhan peserta didik saya di kelas dan merencanakan pembelajaran berdiferensiasi untuk memenuhi hak belajar mereka di kelas. Saya juga akan berbagi dan berkolaborasi dengan rekan sejawat dan orang yang lebih berpengalaman tentang pembelajaran berdiferensiasi serta tidak lupa mengimbaskan pengetahuan ini kepada rekan guru lain di sekolah. Bersama-sama melakukan perubahan demi kemajuan peserta didik agar tujuan pendidikan dapat tercapai.

 

Guru Bergerak, Indonesia Maju

Perbaikan Rapor Mutu Pendidikan

INSPIRASI CARA MEMBENAHI KUALITAS PEMBELAJARAN 1.      Kualitas Pembelajaran A.     Metode Pembelajaran Inspirasi 1          :  Kepala...