Tampilkan postingan dengan label koneksi antar materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koneksi antar materi. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Mei 2023

Koneksi Antar materi Modul 3.2 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumberdaya



Koneksi Antar Materi

Modul 3.2 Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya

 

Oleh Anton Budi Nugroho

SD Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen

Calon Guru Penggerak angkatan 7

Kabupaten Sragen

 

Tujuan Pembelajaran Khusus:  CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya.

 

Kesimpulan tentang “Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya” dan implementasi di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. 

Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis.

Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya seperti : murid, kepala sekolah, guru, staf/tenaga kependidikan, kengawas sekolah, orang tua, masyarakat sekitar sekolah, dinas terkait, serta Pemerintah Daerah. Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah: keuangan, sarana dan prasarana, serta lingkungan alam.

Dalam modul 3.2 ini terdapat pendekatan berfikir dalam pengelolaan aset, yang terdiri dari 2 jenis, yakni pendekatan berbasis kekurangan/ masalah (deficit based thinking) dan pendekatan berbasis asset (asset based thinking). Pendekatan berbasis kekurangan/ masalah (Deficit-Based Thinking) akan melihat dengan cara pandang negatif. memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah memusatkan pikiran pada kekuatan positif, pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Seorang pemimpin pembelajaran di sekolah, harus bisa menerapkan pemikiran yang berbasis aset atau asset based thinking karena pertimbangan bahwa berfikir berbasis aset :

  1. menjadikan suasana nyaman dan menyenangkan.
  2. bisa membayangkan masa depan.
  3. berfikir tentang kesuksesan.
  4. mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan).
  5. merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan.
  6. akan melaksanakan rencana-rencana aksi yang sudah diprogramkan.

Seorang pemimpin pembelajaran harus mempunyai pola pikir dan sikap positif, sehingga bisa mengelola aset yang ada dan memanfaatkan aset yang ada untuk kepentingan pembelajaran yang berkualitas, dan mewujudkan siswa yang bahagia. Tentunya pendekatan yang dilakukan merupakan Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA), yang mana menekankan pada:

  1. Nilai lebih pada potensi (kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan) yang dimiliki oleh komunitas.
  2. Dorongan agar komunitas mampu memberdayakan aset yang dimiliki, serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna.
  3. Kemandirian komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri.
  4. Berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas.

Berdasarkan sumberdaya yang ada dimiliki sekolah dan dua komponen penting dalam ekosistem sekolah, seorang pemimpin pembelajaran harus bisa memetakan tujuh aset / potensi atau modal utama sebuah sekolah serta mengelolalnya dengan baik. Ketujuh kelompok aset tersebut meliputi: (1) Modal Manusia (2) Modal Fisik (3) Modal Sosial (4) Modal Finansial (5) Modal Politik (6) Modal Lingkungan/ Alam (7) Modal Agama dan Budaya.

Guru diharapkan mampu mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya,  merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan, dan melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan.

Sebagai calon guru penggerak, saya bisa memulai dengan menginventarisir hal-hal positif (aset) yang ada dan mengelompokkan ke dalam tujuh modal yang ada. Dengan menemukenali modal yang ada, diharapkan mampu memudahkan membuat perencanaan ke depan.

 

Contoh hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. 

Sekolah merupakan institusi pendidikan yang bertanggungjawab dalam mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Kepala sekolah berperan menjadi seorang pengelola/manajer yang harus mampu mengatur kehidupan sekolah. Sumber daya manusia (guru dan tenaga kependidikan, GTK) sebagai pelaku dan pelaksana yang ada merupakan ujung tombak keberhasilan visi misi sekolah. Pengelolaan sumber daya dilakukan dengan beberapa aktivitas termasuk persiapan, penataan, pengarahan, dan pengawasan.

Kepala sekolah dalam pembinaan dan pengembangan tenaga yang dimiliki dapat dilakukan dengan peningkatan profesionalisme, pembinaan karir, dan peningkatan kesejahteraan. Langkah tersebut tentu akan berpengaruh terhadap kontribusi tenaga pendidik dan kependidikan atau sumber daya manusia yang dimiliki sekolah dalam pencapaian tujuan sekolah. Dengan mengetahui potensi masing-masing GTK, kepala sekolah mampu melejitkan potensi dan mendudukan GTK dalam tugas yang sesuai.

Modal sosial terkait erat dengan keberadaan sekolah denga lingkungan sosial yang ada. Hubungan yang baik dengan masyarakat akan mampu menumbuhkan budaya kerja yang saling mendukung. Bantuan masyarakat yang ada, dapat digunakan untuk mendukung keberlangsungan pembelajaran di sekolah. Modal ini bisa didapat apabila sekolah mampu menjalin komunikasi dengan masyarakat.

Keberadaan sekolah di perkotaan, perdesaan, pesisir pantai ataupun di tengah perkampungan merupakan modal yang sangat unik dan khas. Sekolah hendaknya mampu melihat lokasi strategis ini sebagai peluang. Aspek lokasi dan geografis yang ada harusnya dilihat sebagai peluang untuk memajukan sekolah.

Setiap sekolah akan memimpikan memiliki gedung yang megah, bersih, lengkap dan nyaman. Akan tetapi pemerintah (bagi sekolah negeri) dan yayasan (bagi sekolah swasta) tidak akan mampu sekaligus memenuhi keinginan ini. Kepala sekolah yang baik akan memandang kekuranglengkapan fasilitas sebagai sebuah peluang, bukan kendala. Sekolah bisa memanfaatkan fasilitas yang ada seoptimal mungkin. Ketiadaan lapangan olahraga di sekolah dapat diantisipasi dengan sesekali menggunakan lapangan terdekat, sambil mengajari anak bersosialisasi dengan warga sekitar. Minimnya peralatan TIK disiasati dengan belajar bersama secara bergantian, sambil melatih empati antar  murid.

Semua upaya yang dilakukan tersebut sebenarnya bermuara pada kepentingan peserta didik, yaitu menghasilkan lulusan yang bermutu, lulusan yang menguasai seluruh kompetensi yang dipersyaratkan dengan kategori baik. Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa kepala sekolah harus melakukan upaya-upaya tertentu dalam mengelola sumber daya manusia yang dimiliki sekolah agar seluruh tenaga, terutama guru dan tenaga administrasi agar mereka memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian tujuan sekolah sesuai dengan visi dan misi sekolah.

 

Hubungan dengan modul 

Berikut hubungan materi antar modul:

1.     Modul 1.1 Refleksi Filosofi Ki Hajar Dewantara : Pemetaan potensi yang bisa disesuaikan untuk menuntun murid sesuai kodratnya. Bagaimana guru dapat memetakan kebutuhan belajar murid dengan menggali aset/kekuatan yang ada.

2.     Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak: Kompetensi atau kemampuan untuk merefleksikan, membuat inovasi dan kreatifitas serta berkolaborasi dalam mendukung kesadaran pemimpin pembelajaran dalam melihat aset/kekuatan yang ada.

3.     Modul 1.3 Visi Guru Penggerak: Konsep BAGJA dan 5D digunakan untuk memulai perencanaan dalam pengelolaan sumber daya.

4.     Modul 1.4 Budaya Positif: Memetakan potensi / aset adalah salah satu cara berpikir positif dalam perencanaan pengembangan sumber daya.

5.     Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi: Dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi, guru bisa memetakan minat dan kreatifitas siswa sebagai aset terbaik sekolah.

6.     Modul 2.2 Keterampilan Sosial dan Emosional: Kompetensi / kemampuan guru dalam keterampilan sosial dan emosional dalam memaksimalkan pembinaan siswa sebagai aset sekolah.

7.     Modul 2.3 Coaching: Teknik, prinsip, dan langkah-langkah coaching bisa dilakukan guru untuk menggali kemampuan dan kemandirian coachee sebagai aset sekolah, dalam menyelesaikan permasalahannya.

8.     Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran : Dengan menerapkan konsep, paradigma dan nilai kebaikan bersama serta penerapan 9 langkah pengambilan keputusan, maka pengelolaan aset dapat berjalan lebih optimal.

 

Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

Sebelum sampai pada modul ini, saya masih berfikir bahwa untuk mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan, kita membutuhkan dukungan sarana yang lengkap, dana yang memadai untuk membeli semua aset yang dibutuhkan. Kekuranglengkapan sarana yang ada sering membuat saya beralasan untuk berinovasi. Saya sering beralasan karena ketiadaan sarana dan dana. Jika dibuat dalam sebuah daftar (list) sebelum membaca modul ini saya :

1.     Masih berfikir bahwa kekurangan sarana merupakan penghambat kualitas pembelajaran di kelas.

2.     Hanya melihat aset berupa modal finansial dan fisik.

3.     Belum maksimal dalam mengelola sumberdaya yang ada

Sesudah mempelajari modul ini saya mulai tercerahkan, bahwasanya cara berfikir saya masih perlu diluruskan, yaitu saya harus lebih berfokus pada sumber daya yang ada, dengan senantiasa menemukenali dan melihat 7 aset yang ada. Dengan mengingat 7 modal tersebut saya bisa melangkah, apa yang bisa saya kembangkan dari masing-masing modal. 

Perbedaan Sebelum dan Sesudah Mempelajari Modul 3.2 (Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya) saya makin mantap dan lebih optimis untuk menjadi seorang pemimpin dalam mengelola sumber daya yang ada, dimana kerangka berfikir positif senantiasa diutamakan. Dengan adanya kerangka berfikir positif, maka akan mudah melakukan asset based thinking. Dengan berfikir berbasis aset, akan mudah untuk mengelola sumberdaya yang ada.

Kamis, 20 April 2023

Koneksi Antar Materi 3.1 Pengambilan Keputusan pada Pendidikan Guru Penggerak



KONEKSI ANTARMATERI

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Oleh: Anton Budi Nugroho_CGP ANGKATAN 7_KAB.SRAGEN

Sebelum mengajar di SD ini, saya pernah mengajar di pulau Sumatera selama 4 bulan, pada tahun 2007. Saya mencoba mencari peruntungan di tanah rantau. Karena latar belakang saat itu bukan pendidikan, akhirnya saya kembali ke Jawa untuk mengambil akta 4.

di tahun 2008 saya mulai mengajar di sekolah ini. Dari pengalaman tersebut saya banyak belajar bagaimana mengambil keputusan yang berhubungan dengan dilema etika dan bujukan moral.

 

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).

Bob Talbert

 

Kaitan antara proses pembelajaran dengan kutipan diatas, menurut saya adalah bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dengan permasalahan dilema etika, dimana sebagai seorang guru kita seringkali mengalami dilema dalam pembelajaran, antara mengedepankan materi atau nilai dari sebuah materi melalui pendidikan karakter.

 

Bagi saya sebuah keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, dan senantiasa berpihak pada murid. Hal ini dengan harapan agar keputusan kita mempunyai dampak positif bagi lingkungan sekolah yaitu terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, tanpa adanya perselisihan

 

Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

Seorang pemimpin pembelajaran mampu berkontribusi pada proses pembelajaran murid dengan cara menuntun siswa untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya. Dari pengalaman pembelajaran ini siswa akan mendapatkan kebahagiaan melalui merdeka belajar. Pengambilan keputusan dalam pembelajaran harus mengutamakan kebutuhan belajar murid, yang dapat dilaksanakan melalui pembelajaran berdiferensiasi.

 

Dari kutipan diatas, dapat ditarik benang merah hubungan antara proses pembelajaran dan pengambilan keputusan. Modul ini memberikan pengetahuan bagaimana posisi guru dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan dilema etika atau bujukan moral, tetap senantiasa memperhatikan nilai-nilai kebijakan universal, tanggungjawab, dan berpihak pada murid. Kutipan tersebut merupakan dilema etika yang dapat diputuskan melalui 9 langkah pengambilan keputusan

 

 

 

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Saat menghadapi sebuah masalah yang menuntuk guru untuk mengambil keputusan, maka guru harus ingat dengan pratap triloka dalam pendidikan sebagai sistem among yang diusung oleh KHD antara lain :

  • Ing ngarsa sung tuladha , maknanya adalah, seorang guru menjadi teladan bagi muridnya, memimpin, agar pantas ditiru.
  • Ing madya mangun karsa, maknanya, seorang guru melalui kemampuannya memberdayakan, menyemangati, mampu menumbuhkan kualitas diri sendiri dan murid.
  • Tut wuri handayani, yaitu peran guru sebagai motor penggerak yang memotivasi serta mendorong muridnya berkembang ke arah positif..

Kaitannya dengan pengambilan keputusan, seorang pemimpin (guru) harus mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat, arif, bijaksana, dan berpihak kepada siswanya. Seorang pemimpin (guru) harus mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya (siswa), seorang pemimpin (guru) harus mampu membangun semangat orang-orang yang dipimpinnya (siswa), dan seorang pemimpin (guru) harus mampu memberikan motivasi kepada orang-orang yang dipimpinnya (siswa) untuk dapat mengembangkan minat, bakat, dan potensi yang dimiliki.

Dalam menjalankan peran sebagai guru, ada kalanya guru dihadapkan dalam situasi yang mengandung dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan sebuah situasi dilematis yang terjadi.  Ketika seseorang harus memilih antar dua pilihan, dimana kedua pilihan benar secara moral, tetapi bertentangan. Bujukan moral adalah sebuah situasi ketika pendidik harus memilih keputusan benar atau salah.

Menurut saya pengaruh pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka terhadap sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran adalah guru menyadari bahwa dalam lingkungan sekolah akan ditemukan berbagai dilema etika dan bujukan moral. Maka dari itu disinilah guru harus memiliki kompetensi dan peran sesuai dengan filosofi Pratap Triloka dari KHD dengan cara menjadi sosok teladan yang positif, motivator, dan sekaligus moral support bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila dan merdeka belajar sehingga  guru seyogyanya selalu mengacu pada 9 langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan dalam situasi yang menantang dan bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.

 

 

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, tentu berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Dalam pengambilan keputusan, kita mengenal ada tiga prinsip yang dapat kita ambil yakni Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan tentunya berkaitan dengan nilai- nilai yang tertanam dalam diri kita.

Salah satu nilai kebajikan universal yang menjadi acuan dalam nilai-nilai kebajikan tanggung jawab. Nilai ini sangat penting dalam hal ini, mengingat sebuah keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan. Melalui sikap tanggung jawab dari dalam diri, sebuah keputusan yang kita ambil akan  mencerminkan bagaimana prinsip diri kita berdasarkan ketiga prinsip pengambilan keputusan, sehingga akan mendorong terwujudnya wellbeing dalam ekosistem pendidikan.

 

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Pada materi pengambilan keputusan yang telah CGP pelajari, CGP memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang telah dilakukan pada modul 2.3. Jika pada proses coaching kita (sealku coach) berupaya untuk membantu agar coachee dapat membuat keputusannya secara mandiri maka dalam modul ini kita kembali melakukan refleksi apakah keputusan yang dibuat tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Dalam pembelajaran pengambilan keputusan ini penulis diberikan panduan berupa paradigma, prinsip, dan 9 langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan yang tentu akan membuat suatu keputusan semakin tajam dan matang.

 

 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya dilema etika. Guru yang memiliki kesadaran diri yang baik pasti menunjukkan integritas dan kejujuran dalam pengambilan keputusan. Kemampuan guru dalam mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri sangat diperlukan dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan serta aspirasi. Tidak kalah penting keberagaman latar budaya juga menjadi dasar guru dalam berempati dan peduli.

Pada akhirnya hal tersbut diatas berdampak pada keputusan yang diambil dan perlu dipertanggunjawabkan.

 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Sebagai seorang pendidik tentu akan menghadapi situasi dilema etika atau bujukan moral di lingkungan sekolah. Pembahasan studi kasus pada modul ini memberikan contoh-contoh yang sering terjadi.  Hal ini akan memberikan arahan dan pedoman agar dapat bertindak secara bijak melalui prinsip, paradigma, dan langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan.

 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan memiliki arti penting bagi maju atau mundurnya suatu organisasi/sekolah. Pengambilan keputusan yang tepat akan menghasilkan suatu perubahan terhadap organisasi/sekolah ke arah yang lebih baik, terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. namun sebaliknya pengambilan keputusan yang salah akan berdampak buruk pada roda organisasi/sekolah itu sendiri.

 

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Dalam menjalankan pengambilan keputusanm, tantangan yang saya hadapi diantaranya adalah adanya perbedaan pendapat antar individu maupun antar kelompok. Untuk ini saya harus dapat memilah antara dilema etika atau bujukan moral.  Selanjutnya kaitan antara masalah yang ada tidak lepas dari paradigma di lingkungan sekolah, yaitu :

1. Individu vs kelompok

2. Keadilan vs belas kasihan

3. Kebenaran vs kesetiaan

4. Jangka pendek vs jangka panjang

Dari empat hal tersebut, maka setiap permasalahan harus kita tentukan apakah memenuhi aspek diata atau belum. Dengan kejelian menentukan masuk kategori yang mana, maka kita dapat membuat keputusan yang sesuai dan berpihak pada peserta didik.

 

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Terdapat pengaruh antara pengambilan keputusan terhadap pengajaran yang memerdekakan murid seperti keputusan strategi pembelajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik, kesiapan murid, minat murid, dan profil belajar murid.

Setelah kita mengetahui ketiga unsur tersebut (minat-kesiapan-profil belajar), selanjutnya dapat kita tentukan stategi pembelajaran yang berdiferensiasi konten, proses dan produk

 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin harusnya berlaku dan bertindak bijaksana, memperhatikan nilai kebajikan universal, tanggung jawab, serta yang berpihak kepada peserta didik. Dengan memahami hal ini, akan terwujud kesejahtearaan murid.

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Dari pengamalan memahami modul 3.1 ini, dapat disimpulkan bahwa dalam pengambilan keputusan kita harus berdasar pada 3 unsur yaitu nilai kebajikan universal, bertanggungjawab terhadap segala konsekuensi, dan bepihak pada murid.

Pada modul 2.2 kita sudah belajar tentang Pembelajaran Sosial Emosional, dimana dalam mengambil keputusan, kita  harus dalam keadaan tenang. Pada modul 2.3 kita juga sudah dibekali kemampuan untuk melakukan coaching baik sebagi coach maupun sebagai coachee. Dari pengalaman ini, CGP diharapkan dapat dengan sendirinya menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Dari pembelajaran berdiferensiasi, CGP juga belajar untuk menentukan keputusan apa yang diambil agar peserta didik akan memperoleh pembelajaran sesuai dengan kebutuhannya

 

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Saya telah belajar mengenai 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan keputusan sebagai langkah awal untuk menentukan apakah masalah tersebut merupakan dilema etika atau bujukan moral. Ternyata, disebut dilema etika apabila (benar vs benar) dan bujukan moral apabila (salah vs benar). Dan apabila suatu masalah ketika diuji dengan 9 langkah pengambilan ada uji yang dilanggar, maka hal tersebut dapat identifikasi sebagai bujukan moral.”

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, namun belum melaksanakan 9 uji langkah pengambilan keputusan. Perbedaan yang mencolok adalah, saat itu saya lebih mengedapankan aturan dan kepantasan. Saat itu saya hanya melakukan uji, apa yang akan terjadi apabila hal itu (kasus tersebut) terjadi pada keluarga saya.

 

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Setelah mempelajari modul ini, saya senantiasa berhati-hati dalam mengambil keputusan. Saya tidak serta merta berpandangan bahwa kita dapat mengontrol siswa secara penuh. Dari pelajaran ini saya paham bahwa keputusan yang diambil harus berdasarkan pada nilai kebajikan, tanggungjawab, dan berpihak pada murid. Untuk mendapatkan hal tersebut (berdasar nilai kebajikan, bertanggung jawab dan berpihak pada murid) prose pengambilan keputusan dilakukan sesuaii kaidah yang ada melalui langkah langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

 

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Materi pengambilan keputusan ini sangat penting, apalagi bagi seorang pemimpin pembelajaran, dimana sebuah keputusan diambil harus berdasarkan beberapa pertimbangan. Dari pertimbangan tersbut akan dihasilkan sebuah keputusan yang ada dapat dipertanggungjawabkan. Keputusan yang diambil adalah langkah yang paling bijaksana dan yang terbaik.


Perbaikan Rapor Mutu Pendidikan

INSPIRASI CARA MEMBENAHI KUALITAS PEMBELAJARAN 1.      Kualitas Pembelajaran A.     Metode Pembelajaran Inspirasi 1          :  Kepala...