Kamis, 24 April 2014

Aja ngewak ewakake (lagu dolanan)


Pernahkah anda mendengar suara gamelan?
Pernahkah anda melihat memegang gamelan?
Pernahkah anda memainkan gamelan?
Jika anda menjawab iya, minimal salah satu, SELAMAT, berarti kita "kenal" dengan alat musik ini.

Dulu, sewaktu masih di SD, ada pelajaran ekstra kurikuler karawitan. Pelajaran ini berlangsung tiap Sabtu. Saya tidak memainkan salah satu dari gamelan  tersebut, namun sekelompok teman dari sekelas, ditunjuk sebagai gerong. Gerong adalah penyanyi serupa paduan suara yang mengikuti gamelan. Salah satu gending yang kala itu kami mainkan judulnya adalah "AJA NGEWAK EWAKAKE"

Aja ngewak-ewakake
Petentang-petenteng, bijine diumukake
Bocah kok le ambeg-hm, sajak ngece-ece

Bocah kok le ambeg-hm, nggregetake
rumangsane bocah iku pinter dewe.
jangalah bertingkah yang menyebalkan, mentang-mentang nilainya bagus, lantas dipamerkan.

Lagu tadi menceritakan seorang anak yang sepanjang perjalanan pulang dari sekolah memamerkan nilai berhitungnya yang mendapatkan angka sepuluh, dengan cara menempelkan angka 10 di atas batu-tulisnya ke pipi kanan atau kiri sehingga membekas terbalik, tetapi masih sangat jelas bahwa itu adalah angka sepuluh! Gaya ini sangat umum dilakukan anak-anak ketika itu. Mengapa batu tulis?? Pada jaman itu, anak sekolah masih menggunakan batu-tulis (di Jawa disebut sebagai sabak). Alat tulis primitif ini berupa lempengan batu berwarna kehitaman setebal kurang lebih 5 mm, dengan ukuran panjang-lebar kira-kira 25x20cm. Tidak ada merek, tidak ada ukuran standar, apalagi SNI!! Alat untuk menulisinya juga berupa sebuah batang batu dengan diameter sekitar 4-5 mm dan panjang antara 10-15 cm. Anak batu-tulis ini (sering disebut grip) mudah sekali patah, jadi harus dijaga benar-benar jangan sampai terjatuh.


Moral cerita yang terkandung dalam lagu itu adalah agar anak-anak jangan menyombongkan diri ketika merasa berprestasi, karena kesombongan akan mendatangkan masalah. Boleh senang, boleh bangga, tetapi kesenangan atau kebanggaan itu tidak perlu dipamer-pamerkan, karena akan mendatangkan rasa tidak senang pada orang lain, yang jangan-jangan kemudian dapat mendatangkan masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar