Senin, 25 Agustus 2014

UNIVERSITAS TERBUKA, memang beda

Dulu, di tahun 1990an, ketika saya masih duduk di bangku SD, aneh melihat bapak saya yang katanya kuliah di Universitas Terbuka (UT). Bagaimana tidak aneh, dikatakan kuliah hanya dilaksanakan di hari Minggu saja, bukan di kampus, namun di Sekolah Dasar tempat saya sekolah. Ulangannya pun kirim lewat pos. Aneh benar-aneh.
Hingga saya SMA, saya semakin menertawakan mereka yang kuliah "santai". Kuliah tanpa harus bangun pagi masuk ke kelas, kuliah tanpa tahu siapa nama Rektor, Dekan, bahkan dosen. Kuliah pun hanya sekedar membaca buku tebal. Pernah juga sewaktu di Jogja ikut kuliah di UT, di tahun 1998 masih tergolong murah, semurah kuliah di PTN kala itu.
Waktupun berlalu, saya harus memperdalam ilmu pendidikan. Tertarik dengan tawaran dari UT, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di UT. Saya ikut program S1 PGSD BI, yang dikhususkan  untuk mereka para guru SD yang mengajar di SD namun belum mempunyai background pendidikan dasar (PGSD). Saya mulai ikut perkuliahan di bulan Oktober 2014. Perkuliahan dilaksanakan selama 8 (delapan) kali tatap muka. 
Perkuliahan dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, ini tidak mengganggu aktifitas sehari-hari. Awalnya saya mengira, kuliah ini benar-benar santai, namun ternyata tidak. Tugas yang diberikan selalu berhubungan dengan dunia IT. Mulai dari membuat presentasi hasil diskusi, presentasi dengan multimedia, hingga berbagi tugas melalui emai, blog, dan cloud. Selalu ada aktifitas yang berhubungan IT.
Tak terasa, ujian semester pun tiba. Saya mengikuti ujian di bulan Desember 2014. Saya membayangkan bisa mengikuti ujian sambil diskusi jawaban. Ternyata salah lagi, lembar jawaban komputer sudah ada kode soal sendiri yang berbeda dengan teman. Bahkan nama dan nomor ujian sudah ada, tanpa perlu melingkari. Hehehehe.... mudah dan tanpa perlu melingkari.
Dari perkuliahan semester pertama, sayapun berubah pikiran. Bahwa mindset selama ini UT sebagai Perguruan Tinggi nomer sekian, ternyata tidak terbukti. Mulai dari tatap muka dengan dosen yang berkualitas, modul yang sistematis mudah dipahami, hingga sistem penilaian yang jempolan.

Menyebarkan Ilmu tanpa punya "Kampus"
Begitulah yang layak disandang UT, sebagai perguruan tinggi yang mampu menyebarkan ilmu keseluruh penjuru nusantara, tanpa harus beranjak jauh, tanpa kost, tanpa biaya hidup, tanpa berkurang esensi ilmunya. Mahasiswa tidak harus dipusingkan dengan harus meninggalkan pekerjaan yang selama ini dijalani. "Making higher education open to all" sangat sejalan dengan keberagaman rakyat Indonesia, membuka kesempatan kepada semua warga untuk menambah ilmu. 
Sejalan dengan perkembangan Teknologi
Perkembangan dunia TI yang pesat, ternyata sejalan dengan UT sebagai "making higher education open to all". bahan ajar, perpustakaan, materi, media, hingga penilaian dapat diakses melalui internet. Inilah yang direspon baik oleh UT, sehingga kemajuan teknologi mampu memdorong UT berkibar ke seluruh negeri.
Mencerdaskan Bangsa
Semoga inovasi yang dilakukan UT sebagai tempat menimba ilmu akan terus eksis. Kendala jarak bukan lagi sebagai halangan untuk maju. Semua warga negara bisa cerdas dengan belajar dan menuntut ilmu. Bila selama ini masih banyak orang tua dan masyarakat berpikir ulang untuk menyekolahkan anaknya ke kota, dengan alasan biaya mahal, jauh dari orang tua, tentunya dengan adanya UT hal ini tidak perlu terjadi lagi. Tak perlu jauh perlu jauh ke kota, selama ada akses informasi dan komunikasi, belajar bisa dilakukan dari rumah.

Semoga dengan inovasi ini, kesejahteraan rakyat Indonesia akan semakin mudah. Akses pendidikan mudah, gerbang kemajuan di depan mata, Indonesia Cerdas bukan utopia.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-30. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

TPL_BEEZ5_LOGO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar